Kau tahu, aku pernah bodoh sekali berfikir membuang
semuanya, maksudku, membuang semua yang mungkin hampir mendefinisikan
keseluruhan diriku yang kecil. Yeah,
seperti yang (mungkin) kau ketauhi tentangku; menulis dan bernyanyi adalah
harga mati yang tidak bisa ditawar sampai kapanpun. Kemudian, suatu hari(saat
usiaku remaja, sekarang aku sudah dewasa, kata ibuku begitu) aku pernah ingin
bertukar ‘Harga Mati’ku itu dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang terus-
terusan keluar dari mulut jorok
mereka, mengadopsi sebuah organisme baru yang bisa menginvasikan diriku. Mulut jorok mereka tidak habis- habisnya
mengoceh bilang bahwa ini bisa membuatku jadi seorang Putri sungguhan.
Mungkin karena penolakan yang mereka berikan berkali-
kali membuat pemikiran hina semacam itu muncul dalam kepalaku. Setelah dewasa
aku baru megerti bahawa mereka itu orang tolol dengan sejumlah penolakan tolol
yang mereka berikan padaku.
Suatu ketika, saat aku sedang duduk di teras rumah
sambil membaca komik- komik yang di pinjam pamanku di suatu tempat yang aku
tidak tahu di mana (omong-omong pamanku itu termasuk orang yang meracuniku
dengan kegiatan membaca setelah ayahku) ibuku keluar, duduk si sampingku sambil
kipas- kipas. Dia tanya apa yang sedang kubaca, kemudian kujawab bahwa aku
sedang membaca komik gratis yang kucuri dari rak pamanku. Ibuku sempat melotot,
yah, tahu saja lah, peraturan di rumah kami itu ketat seklai tentang ini- itu.
Sebenarnya saat itu dalam kepalaku sedang terjadi
keributan ini- itu. Semua anggota dewan tengah melakukan rapat paripurna tentang
‘Harga Mati’ yang akan kutukar sebentar lagi. Makanya, aku baca komik paman
sampai mataku mampus. Ibuku terus kipas- kipas dan kemudian bertanya, “Kenapa
kau suka baca buku sih?”. Ku jawab “Gara- gara ayah.” Sebenarnya tidak sepenuhnya ayah, ibuku juga
jadi orang yang bertanggung jawab atas racun- meracuni ini. Ibu dan ayahku
selalu bergerak bersama mendidik kami dengan kemampuan seadanya ketika ‘Depresi
Besar’.
Ibu: kau tidak capek duduk lama dan baca?
Aku: yah, kadang bokongku sakit sih, tapi bisa tiduran
sambil membaca.
Ibu: ayahmu dari dulu suka membaca, dia bilang, dia
berhenti sekolah dini sekali karna suatu hal. Tapi setiap kali menemukan buku,
dimanapun; di jalan, tong sampah, loakan, pabrik-pabrik, dia selalu
menyelamatkannya dan di bawa pulang kerumah buat di baca. Katanya, belajar itu
bisa dilakukan dimana saja asal punya kemauan.
Aku: ibu tidak suka baca?
Ibu: suka, waktu muda, aku dan ayahmu sering beli
buku- buku bekas, yah walaupun jenis bacaan kami berbeda sih. Dan kemudian
sirkulasi kehidupan kami berubah dan kami mulai kurang baca.
Aku: kenapa ibu tidak pernah baca buku lagi sekarang? Bersama
aku. kita bisa pinjam buku atau beli yang bekas saja.
Ibu: tidak. aku tidak ingin baca buku apapun sebelum
membaca buku pertamamu.
Itu semacam fenomena yang membuat jantungku berhenti
berdetak sepersekian detik, dan aku tertabrak truk, terlontar ke langit
kemudian terhempas di atas tanah. Hatiku hancur seketika, aku ingin menangis,
tapi tidak kulakukan di depan ibu. Aku tidak percaya bagaimana bisa aku bodoh
sekali selama ini. Ibu mencintai ‘Harga Mati’ku dan aku malah ingin menukarnya
dengan omongan jorok mereka.
bagaimana bisa aku mengkhianati cinta satu orang yang mencintaiku dalam bentuk
apapun demi merebut hati ribuan orang yang tidak bisa mencintaiku seperti
adanya.
Sejak hari itu aku membuat perjanjian dalam kepalaku.
Memastikan semua anggota rapat paripurna mencatatnya untukku (kalau- kalau aku
terserang omongan jorok lagi di masa
mendatang, jadi aku punya bukti bahwa aku pernah berucap janji) bahwa aku tidak akan menukar ‘Harga Mati’ku
dengan apapun.
Usiaku 21 sekarang. Sudah semakin pendek dari masa
kontrak yang diberikan. Sebentar lagi aku akan menulis sebuah tulisan ilmiahku
sendiri dan menadapatkan gelar Sarjana Humaniora. Sekarang, ketika kadang- kadang
sedang duduk mengerjakan ini-itu aku suka termenunng dan memikirkan cerita
lalu. Kalau saja rapat paripurnaku mengambil langkah salah, mungkin aku tidak
sedang di sini sekarang. Tidak ada ‘Harga Mati’ apapun yang duduk di sebelahku
setiap kali di dalam bus.
Omongan jorok semakin banyak saja saban hari. Melelahkan
memang. Tapi setiap kali ingin jatuh tenggelam di samudra pasifik, aku selalu
teringat percakapan ibu. Cuma itu satu- satunya alasan untuk terus jalan di
atas omongan jorok
yang lengket dan menempel di sol sepatuku (susah sekali di cuci).
Mereka hampir membuatku membunuh diriku sendiri dulu,
kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar