Penulis: Cho Nam Joo
Tahun terbit: 2019
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman:192hlm
ISBN:9786020636191
Penerjemah: Lingliana
Buku ini dimulai dari masa kecil Kim Jiyeong yang lahir dari ibu rumah tangga dan bapak seorang PNS dengan pangkat yang tidak terlalu tinggi namun memiliki gaji yang stabil. Jiyeong merupakan anak perempuan ke-dua dari tiga bersaudara. Jiyeong lahir sebagai anak perempuan yang selalu mendapat tempat nomor dua dalam masyarakat dan dalam keluarganya sendiri, dalam buku ini diceritakan bagaimana anak laki – laki lebih begitu diharapkan kehadirannya dibanding anak perempuan.
Ibu Jiyeong Oh
Minseok adalah seorang wanita yang masa kecilnya dihabiskan untuk bekerja
sebagai petani dan kemudian bekerja di pabrik untuk menghidupi keluarga dan
membantu biaya sekolah saudara laki – lakinya untuk bersekolah. Minseok juga
lahir sebagai manusia kelas dua yang harus setuju dengan pemikiran “anak laki –
laki adalah penopang keluarga, jadi harus mengenyam pendidikan yang jauh lebih
tinggi, anak perempuan tugasnya membantu anak laki – laki dam keluarga.”
Buku ini disusun dengan semua runtutan hidup Kim Jiyeong yang universal tidak spesifik, sehingga setiap cerita akan dapat menyatu dengan banyak orang yang membacanya. Sesudah Kim Jiyeong lahir ibunya kembali hamil, sejak pernikahan dia selalu dihantui rasa tanggung jawab untuk melahirkan anak laki – laki, seolah takdir berasa dalam genggamannya sehingga dia menggugurkan kandungannya yang berjenis kelamin perempuan. Ketika kakak Kim Jiyeong lahir, Kim Eunyeong, ibunya merasa bersalah dan meminta maaf kepada ibu mertua, seolah melahirkan anak perempuan adalah dosa yang cukup besar yang terjadi diperadaban manusia.
Tidak hanya dalam kehidupan
berkeluarga, dalam lingkungan sosial perempuan memang jelas menjadi manusia
nomor dua. Ketika sekolah murid laki – laki mendapat giliran makan lebih awal
daripada anak perempuan dengan alasan anak laki – laki makan lebih cepat. Anak perempuan
mendapat giliran makan ronde kedua yang mana berarti makanan harus cepat
dikunyah atau akan telat masuk kelas untuk pelajaran selanjutnya. Ketika SMP sekolah campuran sudah mulai diterapkan di
Korea, namun katanya peraturan sekolah campuran lebih ketat terutama untuk perempuan. Anak perempuan tidak boleh
menggunakan sepatu olah raga, harus menggunakan rok yang panjang mentup lekukan
bokong dan paha, mereka harus menggunakan singlet berkerah tinggi dibalik
kemeja putih agar tidak tembus pandang, dilarang menggunakan tank top atau
sesuatu yang berlengan pendek, dilarang menggunakan sesuatu berbahan renda atau
sesuatau yang berbeda lainnya. Dimusim panas mereka harus menggunakan stoking
berwarna kulit dan kaus kaki putih. Dimusin dingin, mereka harus mengenakan
stoking hitam khusus untuk pelajar. Dilarang memakai stoking hitam yang
tembus pandang.
Ia harus berhati – hati, harus berpakaian pantas, harus bersikap pantas. Ia harus menghindari jalan yang berbahaya, waktu yang berbahaya, dan orang yang berbahaya. Kalau ia sampai tidka sadr dan tidka menghindari, maka ia sendiri yang salah.
Sederet peraturan itu baik
bukan? Menandakan bahwa siswa perempuan benar – benar dididik menjadi
masyarakat yang berilmu dan beradab, tapi hal ini (menurutku) terlihat tidak
baik ketika murid laki – laki tidak memiliki peraturan apapun yang mengikat
mereka dalam aturan masyarakat yang berdab, seolah perempuan memang turunan
makhluk tidak becus yang memang harus diikat dengan berbagai macam aturan.
Kebebesan yang diberikan kepada murid laki – laki nyaris menggeser status
sekolah sebagai tempat sumber ilmu yang paling tinggi, yang mana seharusnya
mengajarkan kesetaraan manusia kepada seluruh murid yang akan menjadi
masyarakat dewasa nantinya.
Ketika Kim Jiyeong menikah dengan laki – laki yang dia cintai, Kim Jiyeong terus – terusan diserbu dengan kabar baik. Semua orang bertanya – tanya kapan kiranya mereka akan menerima kabar baik (read: kehamilan). Ketika Kim Jiyeong membalasnya dengan senyuman atau “kami belum ingin punya anak” orang – orang mengabaikan suaranya dan mulai membahas seluruh bagian tubuhnya yang tidak sehat, yang seharusnya diperiksa, yang seharusnya dibantu dengan vitamin setiap hari seakan mereka lebih paham akan tubuhnya daripada dirinya sendiri, sedang sang suami hanya diam tanpa bantahan. Ketika Jiyeong memikirkan bagaimana kariernya setelah melahirkan suaminya menenangkan Jiyeong dengan mengatakan “Kita tidak seharusnya fokus pada apa yang hilang dari diri kita, tapi fokuslha pada apa yang kita dapatkan”.
Apabila kita memilih tetap bekerja dan meninggalkan anak di bawah pengawasan pengasuh anak, tidak berarti kita tidak menyayangi anak kita. sama seperti apabila kita berhenti bekerja demi membesarkan anak, tidak berarti kita tidak memiliki semangat untuk bekerja.
Melahirkan dan menjadi seorang ibu nyaris menghilangkan separuh diri
Kim Jiyeong namun tidak ada yang benar – benar hilang dari suaminya. Kim
Jiyeong mulai menjadi pribadi yang berbeda setelah melahirkan anak pertamanya
yang cantik. Kesehatan mentalnya benar terganggu, dia mulai berubah menjadi
orang lain.
Buku ini memakan seluruh
emosiku sebagai seorang perempuan dalam tatanan masyarakat dan seorang anak
perempuan. Dalam masyarakat aku tidak boleh memakai baju yang serampangan,
tidak peduli seberapa tertutup bajuku tetap saja ada orang – orang nakal yang
melakukan pelecehan verbal. Dalam keluarga anak perempuan harus bangun pagi dan
beres – beres; harus mencuci piring selesai makan, harus menyapu lantai, harus
mengepel, harus tau cara memasak, harus hafal alat – alat dapur, selalu saja
ada kata ‘harus’ untuk anak perempuan. Anak perempuan yang memutuskan tidak
menikah cepat langsung dianggap rusak, menyedihkan, tidak laku, perawan tua.
Ketika usiaku menginjak 27 tahun aku mulai kehabisan nafas, sadar betapa
perempuan tidak diberi jeda dalam kehidupan mereka sendiri.
Kisah Kim Jiyeong yang besar
dalam misogini dan patriaki bukan hal yang asing, terkadang masih terasa
membingungkan Negara sekelas Korea Selatan masih cukup kental dengan patriaki
dan misogini, tapi inilah kenyataannya. Perihal karyawan wanita yang harus
berhenti bekerja ketika mereka melahirkan bukan hal asing, aku pernah bertanya
pada seorang teman (warga korea) yang mengatakan wanita sering menjadi
pertimbangan berat untuk banyak perusahaan mengingat mereka akan menikah dan
melahirkan nantinya, melahirkan akan menjadi momok yang mengerikan bagi
perusahaan, ketika karyawan wanita cuti dan posisi mereka kosong maka saat
itulah perusahaan merasa mereka rugi
besar. Hal ini mendorong banyak kaum muda yang menolak untuk menikah dengan
alasan ingin mengejar karir sehingga angka kelahiran semakin menurun.
Hal lain yang sangat
terkenal dari Korea yang benar – benar tidak ramah bagi wanita adalah Spycam.
Spycam yang dipasang diseluruh sudut toilet umum WANITA, toko kecantikan, ruang
ganti toko baju wanita, motel, bahkan hotel berbintang sekalipun. Hal ini
pernah menjadi perdebatan diantara para pejuang wanita di Korea yang berbondong
– bondong meminta hak kebebasan dan keamanan bagi mereka di ruang public.
Beberapa polisi wanita dikerahkan untuk rutin memeriksa toilet umum wanita,
tapi spycam tidak pernah mati dari peredaran. Masih ingat dengan kasus “Nth
Room” yang mana seluruh korban adalah
wanita dari segala kalangan profesi dan usia? dan pemangsa
mereka tidak lain adalah kaum laki – laki yang jumlahnya jutaan.
Buku ini mewakili suara
wanita yang selama ini diam dan merasa baik – baik saja, dari buku ini kita
kembali disadarkan bahwa bersuara itu tidak salah, bahwa wanita juga berharga
terlepas dari bagaiamana tatanan masyarakat melihatnya. Ini bukan cerita
seorang anak perempuan yang patah hati pada cinta pertamanya, tapi kisah
seorang anak perempuan yang patah hati pada dunia.
Salam hangat dari kerajaan
yang jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar